Itu terjadi pada pertengahan November, sekitar pukul 19.30—waktu yang biasanya kusisihkan untuk menyusun catatan perjalanan. Namun malam itu angin membawa undangan yang tak terduga: sebuah upacara adat di kampung kecil di pinggir hutan, Desa Panggungrejo. Aku datang karena penasaran, bukan karena ngerti tradisinya. Jauh dari hiruk-pikuk kota, jalan tanah yang basah karena hujan sore membuat lampu mobilku berkedip seperti menyapa.
Setibanya, suasana langsung berbeda. Ada bau dupa samar, suara gamelan tua yang keluar dari balai, dan ribuan bintang yang tampak lebih dekat dari biasanya. Warga desa—dari anak-anak yang masih menempel pada punggung ibunya hingga kakek yang duduk tegap—bergabung tanpa formalitas berlebih. Mereka menyambutku seperti tetamu yang sudah lama dikenal.
Pada awal upacara, aku merasa sedikit canggung. Bahasa ritual kadang terasa asing. Namun ada momen kecil yang mengubah itu: seorang ibu muda meminjamkan selimut kecil kepadaku ketika angin dingin menyelinap. “Jangan beku, Nak,” katanya begitu saja. Kalimat sederhana, namun penuh empati—salah satu detail yang membuatku ingat sampai sekarang.
Prosesi dimulai dengan pemukulan gendang, diiringi suara gamelan yang bernada minor. Lampu minyak satu per satu dinyalakan, bukan hanya sebagai penerangan, melainkan simbol. Di sinilah konflik internalku muncul: aku, orang kota yang biasanya mengukur pengalaman dengan foto dan catatan, harus memutuskan apakah akan merekam momen ini atau membiarkan mata menyimpan seluruhnya. Aku memilih untuk menonton—mendengarkan—dan itu keputusan yang mengubah perspektifku.
Ada momen khusus ketika sekelompok pemuda membawa obor melewati lorong-lorong kampung, suara langkah mereka serempak. Seorang lelaki tua berdiri di depan balai, suaranya berat tapi tegas saat memimpin doa. Aku masih ingat detilnya: keriput di sudut mata memberi kesan sejarah hidup, dan tangannya yang gemetar saat mengangkat sesajen. Itu bukan kelemahan. Itu catatan waktu, bukti perjalanan panjang komunitas itu.
Keterhubungan. Bukan sekadar warna-warni upacara atau estetika ritual, melainkan cara orang kampung saling memegang peran. Anak kecil menabuh tambur, ibu-ibu menyiapkan makanan, remaja mengatur lampu—semua tanpa arahan formal. Ada harmoni yang tampak alami. Itu menyentuh karena di kota, kegiatan kolektif seringkali dipaksakan oleh event planner atau kebutuhan pencitraan. Di sini, semuanya lahir dari kebutuhan bersama untuk mengingat, merayakan, dan menenangkan.
Di tengah upacara, aku sempat membuka ponsel, bukan untuk merekam, melainkan untuk membuka playlist yang sering kugunakan saat menulis di perjalanan. Lagu-lagu itu membuatku nyaman, dan aku teringat pada sebuah blog perjalanan yang sering kubaca—aku bahkan mencari link musicandwanderlust untuk mengingatkan diriku tentang bagaimana musik bisa menghubungkan memori. Musik dan ritual berbaur; keduanya berfungsi sebagai jembatan antara yang lalu dan yang sedang berlangsung.
Pulang dari kampung itu, aku membawa lebih dari foto. Aku membawa pelajaran tentang kehadiran. Di saat banyak pengalaman wisata modern dikonsumsi cepat, upacara malam itu mengajarkan pentingnya melambat. Melambat untuk mendengar, untuk menunggu, untuk merasakan resonansi sebuah tradisi. Dalam praktik profesionalku sebagai penulis perjalanan, pelajaran ini berharga: cerita tulus lahir dari keterlibatan penuh, bukan dari snapshot permukaan.
Aku juga belajar soal kerentanan yang kuat. Keterbukaan warga desa menerima orang asing—tanpa syarat dan tanpa agenda—memberikan contoh nyata bagaimana empati kolektif bisa menyembuhkan. Kalau aku harus memberi saran praktis kepada pembaca yang ingin mengalami hal serupa: datanglah dengan niat untuk memberi, bukan hanya mengambil. Bawa rasa ingin tahu, tapi juga hormat. Tanyakan sebelum memotret. Duduk kalau ditawari. Biarkan ritual mengalir, dan biarkan dirimu tergerak.
Upacara malam itu membuatku terharu bukan karena dramanya semata, melainkan karena ia mengingatkanku pada esensi perjalanan: tidak sekadar melihat tempat baru, tapi mengalami keberlangsungan kehidupan bersama orang lain. Dan itu, bagi seorang penulis perjalanan, adalah sumber cerita paling berharga—karena ia mengubah cara kita memandang dunia, sedikit demi sedikit.
Menemukan Keajaiban Tersembunyi Di Sudut-Sudut Kota Yang Jarang Diketahui Pernahkah Anda merasa bahwa kota yang…
Menggali Cerita Di Balik Tradisi Unik Dari Desa Kecilku Musik memiliki kekuatan untuk menyatukan orang,…
Menjelajahi Keindahan Alam, Mengapa Pantai Ini Selalu Membuatku Terpesona Di tengah rutinitas harian yang monoton,…
Menyusuri Jejak Kenangan di Tempat-Tempat yang Pernah Kumiliki Musik memiliki kekuatan untuk membawa kita kembali…
Momen Tak Terlupakan Di Festival Musik: Cerita Malam Penuh Energik Festival musik bukan sekadar acara…
Menjelajahi Sudut Tersembunyi Kota Tua yang Menggugah Kenangan dan Cerita Di suatu sore yang cerah,…